Mengalirkan Rasa, Membangun Peradaban

Keluarga seperti apakah yang kita inginkan? Keluarga yang biasa-biasa saja? Ataukah keluarga luar biasa yang penuh inspirasi? Kemudian, bagaimana kondisi rumah kita. Apakah menjadi rumahku surgaku? Ataukah rumahku hambar, tidak ada rasa bahwa kita punya keluarga? Atau bahkan rumahku nerakaku? Na’udzubillahi mindzalik.

Apa pun bentuk keluarga kita, tentunya tak akan lepas dari paradigma yang kita miliki tentang keluarga, kompetensi (bakat) masing-masing anggota keluarga, serta berbagai aktivitas yang ada di dalamnya.

Ketika paradigma dalam membangun keluarga bahagia adalah yang bergelimang harta, maka motivasi dan pusat perhatian kita dalam berkeluarga adalah mengumpulkan dan menambah terus harta kekayaan. Ketika paradigma dalam membangun keluarga hanyalah mengikuti apa yang sudah ada, maka motivasi dan pusat perhatian kita dalam berkeluarga juga (biasanya) mengikuti apa yang sudah ada. Tidak ada target, tidak ada visi misi, yang penting jalan.

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Sebagai seorang muslim, tentunya harus berbeda. Paradigma berkeluarga bagi seorang muslim berasal dari motivasi bahwa berkeluarga adalah untuk beribadah kepada Allah, menjaga kesucian diri, dan merealisasikan amal bahwa berkeluarga adalah bagian dari sebuah gerakan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi, membangun peradaban. Sehingga, pusat perhatiannya dalam berkeluarga adalah meningkatkan kualitas ruhiyah, fikriyah, nafsiyah (emosi kejiwaan), jasadiyah, serta ijtima’iyah (sosial).

Secara ‘gampangnya’, keluarga yang muslim yang hendaknya dibangun adalah keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah (samara). Karena dalam keluarga yang samara itulah insyaAllah kita akan melahirkan pribadi islami untuk saat ini dan masa depan.

Betapa tidak simpelnya membangun keluarga bagi seorang muslim. Tidak simpel bukan berarti tidak bisa, karena Allah sudah memberikan banyak tools untuk mewujudkannya. Jadi, sangat penting bagi seorang muslim membangun kompetensi untuk membangun keluarga. Kompetensi berumah tangga adalah segala pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar yang harus dimiliki agar seseorang dapat berhasil membangun rumah tangga yang kokoh yang menjadi basis penegakkan nilai-nilai Islam di masyarakat.

Keshalihan diri kita dan pasangan hidup kita adalah modal dasar membentuk keluarga samara. Suami-istri itu akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam mengelola keluarga mereka.

Terkait fungsi-fungsi tersebut, saya sebagai wanita, dalam hal ini sebagai seorang istri dan ibu, dengan berbagai tanggung jawab yang tidak ringan, tentu juga tidak ingin melakukan ikhtiar yang maksimal. Salah satunya, saya ‘nekat’ mengikuti kuliah di IIP.

Alhamdulillah, lewat IIP yang baru saya pelajari seujung kuku, Allah membuka mata dan hati saya. Kembali menyelami makna hidup. Ngapain sih saya hidup? Untuk apa sih Allah menciptakan saya seperti ini? Kenapa Allah mempertemukan saya dengan suami saya dengan segala kelebihan dan kekurangan, serta kenapa Allah menitipkan anak-anak yang unik-unik seperti itu. Pasti ada maksudnya. Bukan hanya sekedar cocok, tapi bagaimana semua potensi itu bisa kami gunakan untuk menebar manfaat untuk umat, sebagaimana (semacam) jargon hidup saya dan suami. Khairunnaas… Anfa’uhum Linnaas – Sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang paling banyak memberi manfaat untuk sesama.

Menjadi istri itu, sangat bahagia
Sangat mulia
Sangat besar amanahnya
Sangat berliku tantangannya.

Menjadi ibu itu, sangat mulia
Sangat bahagia
Sangat terhormat
Sangat besar amanahnya
Sangat besar cintanya
Sangat berliku tantangannya.

Alhamdulilah, kita terpilih
Kita dipercaya dan kita (dianggap) mampu mendampingi disetiap detik perkembangan anak- anak yang bukan pekerjaan sampingan dan sekedarnya.

Bersiap dengan tangis, tawa, sedih, senang, kecewa, bangga, tegas, lembut, menasehati, dinasehati, didukung, dibiarkan, optimis, pesimis dan segudang rasa-rasa lainnya. Semua campur aduk. Bersama hati yang dipenuhi cinta.

Itulah kita, ibu yang mendampingi. Bukan boss yang penuh tuntutan, bukan ajudan yang disuruh-suruh, bukan teman yang setara, bukan musuh yang dilawan.

Kita, ‘hanya’ ibu yang harus terus belajar. Karena semua butuh ilmu.

Karena seorang ibu yang berilmu, seorang istri yang berilmu dan mau mengamalkannya, akan sangat menentukan bagaimana keluarga ke depannya. Karena peradaban itu bermula dari rumah.

 

Tazkiyatun Nafs dan Toilet Training

Awal dikasih amanah sama Allah berupa bayi mungil nan shalih Farid Zakaria, saya begitu optimis bakal bisa menjalankan apa-apa yang sudah saya pelajari jauh hari sebelum menikah dengan baik. Tak terkecuali masalah toilet training.

Dari lahir sampai sekitar usia 2 bulanan, saya lebih sering pakein popok kain, dan mulai usia 3 bulan lebih sering menggunakan clodi. Akan tetapi karena waktu itu masih jaman susah banget, clodi cuma punya ga lebih dari 5 biji kalo ga salah dan saya LDM sama suami, ditambah juga ngurus santri bocils yang butuh tenaga ekstra, alhasil saya rada kewalahan.

Dari situlah permasalahan mulai muncul. Saya mulai nyerah. Akhirnya saya pake pospak untuk Farid. Tapi makin buruk lagi karena keterusan. Merasa berdosa banget? Iya. Tapi rasa-rasanya saya tak bisa apa-apa. Malu? Iya banget. Tapi apalah daya. Ngeluh ke suami, sampe kapan mau kayak gini. Tapi nampaknya belum ada solusi konkret.

DAGANGANTips Agar ASI Banyak dan Lancar

Tak jarang saya sering uring-uringan karena masalah ini. Menganggap anak ga paham-paham. Lah? Maafkan bunda ya nak, sudah banyak salah ke kamu. Harusnya bunda yang memahamimu, bukan kamu yang memahami bunda. Astaghfirullah. Hiks..

Akhirnya saya coba ‘semeleh’. Dah, ngalir aja, pelan-pelan, sambil disounding terus.

Saya coba lakukan tazkiyatun nafs. Kali ini lebih digenjot. Biarlah Allah yang menuntun. Dia yang punya hati. Aku, bundanya, tidak berdaya apa-apa.

And do you know? Apa yang terjadi setelah saya intens tazkiyatun nafs itu?

MasyaAllah, laahaula walaa quwwata illabillaah.. Sungguh, Allah lah yang menggerakkan, Allah lah yang menuntun, memberi petunjuk. Anak saya, Farid, begitu mudahnya diajari toilet training. Sehari dua hari masih ada kebobolan, tapi paling cuma 10% saja, selebihnya sukses. Dan tidak ada seminggu, sudah sukses, masyaAllah.

Ini pengalaman yang menurut saya berharga banget. Memang tidak se wow dengan proses anak-anak lain, mungkin, tapi ini menurut saya adalah wow banget.

Ahamdulillah ‘ala kulli hal.

“Sungguh, andai kita hanya mengandalkan kemampuan kita saja dalam mendidik anak-anak kita, tentulan anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang kacau dan durhaka.

Namun, Allah tak pernah tidur mengintervensi dan memperbaiki segala kelemahan dan kesalahan kita dalam mendidik anak-anak kita.

Maka setiap malam sebelum tidur bermohonlah kepada Allah agar Ia mendidik anak-anak kita, serta mengkoreksi segala kesalahan dan kelemahan kita”

(Ust. Aad)

Kami Sembuh dengan Al Qur’an

Pasca ruqyah itu, alhamdulillah, pelan-pelan kehidupan kami mulai ‘normal’. Saya fokus ke pemulihan kesehatan baby dan saya sendiri dan juga penjagaan kesehatan suami dan si sulung. Percaya atau tidak, penyakit yang lama bersarang itu menunjukkan kemajuan yang drastis, ibarat kata, penyembuhan itu sudah berlangsung 75% lebih.

Sebelum ini, saya juga sempet meruqyah ibu saya. Ceritanya ibu saya mendadak ada gangguan telinga, sehingga tidak bisa mendengar, kalopun bisa harus dengan volume yang besar. Ga jarang hal ini membuat orang di sekitar beliau menjadi jengkel. Saat diperiksakan ke THT juga tidak ada gejala apa-apa, semua normal banget. Akhirnya kami (saya, suami, dan anak-anak) menyempatkan pulang. Saya ‘wawancara’ ibu saya, dan fiks, ini sepertinya ‘gangguan’. Akhirnya saya coba sebisa saya meruqyah ibu saya. Dan saya pesankan ke ibu untuk melakukan beberapa hal sebagai ikhtiar lanjutan. Alhamdulillah, beberapa pekan setelahnya, saya mendapat kabar kalo telinga ibu saya sudah hampir sembuh 100%. MasyaAllah, alhamdulillah, Allahu akbar. Maka nikmat-Mu yang mana yang akanaku dustakan.

Jadi inget juga, dulu sekali saya juga pernah sakit, waktu itu saya belum begitu ‘kenal’ dan ‘percaya’ ruqyah, saya hanya meniatkan tilawah saya untuk mengobati sakit yang saya derita saat itu, dan masyaAllah, atas ijin Allah, penyakit saya saat itu hampir 100% sembuh. It’s amazing, masyaAllah. Al Qur’an itu syifa’. Do you believe it? Ya, saya yakin, akan ada orang yang tidak percaya hal ini, tapi saya sudah membuktikan sendiri beberapa kali. Yap, ini adalah masalah keimanan. Sebagaimana masalah rezeki yang sering dikampanyekan oleh Ustadz Yusuf Mansur. Kalo tidak percaya, ya mungkin ga bakal terjadi. Prasangka Allah mengikuti prasangka hamba-Nya.

Dalam hal ibadah, saya juga merasakan ringan sekali, masyaAllah. Badan enteng, serasa habis melahirkan, yang dosa-dosanya diampuni Allah. Rasanya tak mau sedikitpun diri ini tertempeli noda-noda lagi, pengen seperti itu terus, ‘bersih’. Keluhan-keluhan yang biasanya dialami oleh suami jug alhamdulillah, dengan ijin Allah, tidak lagi menghampiri.

Oh iya, sejak ruqyah itu, saya menjadi sangat sensitif sekali. Katakanlah dalam hal makanan. Beberapa kali ‘terpaksa’ membeli makanan di luar, yang sekilas nampak halalan thayyiban, namun ternyata badan saya langsung bereaksi. Entah saya mendadak tepar atau bahkan sampai keluar lagi lewat muntah. Ya, badan saya menolak makanan yang ‘tidak sehat’.

Dan sampai saat ini, kalau inget kejadian-kejadian yang berbulan-bulan itu, yang terasa sangat berat (menurut saya), rasanya bersyukur banget, Allah kasih jalan untuk keluar dari permasalahan tersebut. Dan PR ini belumlah usai. Masih ada PR-PR lain yang harus kami selesaikan.

Berharap, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan kesabaran untuk tetap istiqomah memperbaiki diri.

Cerita Tentang Sugus (Lanjutan)

Rada bingung mau mulai dari mana. Sebenernya, awalnya saya hanya iseng posting tentang tulisan pengalaman ‘mistis’, di luar dugaan ternyata banyak yang respon. Baiklah, saya akan berusaha penuhi janji saya.

Pasca kejadian sugus itu, setelah kami ruqyah dan kami kembalikan ke pengirim, alhamdulillah, hidup kami kembali aman, damai, dan tenang. Ibadah pelan-pelan mulai pulih. Tapi satu hal yang masih nempel, kami sekeluarga masih bergantian sakitnya. Sakit terparah dialami oleh saya sendiri, rekor hampir 3 bulan. Saya sembuh, suami nyusul sakit, kemudian Farid. Terakhir Elina, yang ini juga lumayan, tapi masih lebih parah saya. Tapi gimana sih rasanya, bayi sakit ga kunjung sembuh. Pijat refleksi, ruqyah (sebisanya saya dan suami), sampe terakhir ikhtiar ke nakes tapi belum menampakkan hasil yang menggembirakan. Capek, hampir putus asa. Jelas banget. Sebagai perempuan, yang baper, tak jarang saya nangis liat kondisi seperti ini.

Pada akhirnya, saya ceritakan semua yang saya alami ke mertua. Termasuk gangguan yang saya lihat dalam ‘tidur’.

Beberapa hari terakhir, gangguan muncul kembali. Dimulai dari pagi hari pas nyapu rumah, tetiba muncul klabang. Lalu malam harinya, tindihan, melihat ada yang ngintip dari jendela kamar, anak kecil sama hewan, ntah apa saya ngga merhatiin. Kaget banget, kok malem-malem ada anak kecil ngintip. Spontan saya bacain syahadat, berkali-kali ga pergi-pergi itu yang ngintip. Ternyata, di luar (dalam mimpi), anak kecil itu ga sendirian. Rasanya rame, lebih dari 3 sugus sepertinya. Dalam mimpi (tindihan itu), saya kejar terus pake telunjuk syahadat, mereka lari, tapi ketengkep satu, langsung saya habisi. Alhamdulillah, dengan kekuatan dari Allah, tidak ada rasa takut sedikitpun saat itu. Tapi anak kecil yang ngintip itu juga ga bergeming. Sampe akhirnya saya kebangun, ngos ngosan. Langsung baca ayat-ayat ruqyah, dan saya usap ke tubuh seluruh anggota keluarga.

Pagi hari cerita ke suami, bahwa saya capek hidup penuh gangguan.

Gangguan belum selesai kawan. Malam harinya, sambil mijitin Farid, saya ketiduran, tindihan lagi. Saya lihat ada keranda di kamar dan pocong tidur di samping, kaget, belum sempet baca apa-apa alhamdulillah udah kebangun.

Tapi di antara semua itu, paling sedih kalo liat Elina tiap pagi nafasnya ngos ngosan, bunyi, berat banget. Ga jarang saya nangis sendiri liat kondisi begini terus. Saya tau banget gimana rasanya. Saking capeknya, kita sempet terpikir pergi dari sini, ga tinggal disini lagi, tapi masih mikir tanggung jawab yang sudah ‘terlanjur’ kita ambil.

And then, alhamdulillah, akhirnya Abah turun tangan langsung. Meruqyah. Ruqyah berlangsung selama lebih dari 3 jam, itupun diakhiri karena baby Elina sudah butuh ASI dan saya sudah lemas hampir pingsan. Alhamdulillah, setelah ruqyah, rumah saya terasa lebih ‘terang’, badan saya enteng banget, hati lebih tenang. Pun suami juga demikian. Alhamdulillah.

Tapi kami sadar, bahwa ini bukan akhir. Bisa jadi masih akan ada serangan-serangan lagi, wallahu a’lam. Dalam keadaan seperti ini, sangat terasa betapa kita tidak bisa apa-apa tanpa Allah.

FYI : ini hanya sebagian kecil cerita kami. Alhamdulillah, Allah Maha Baik, yang tidak pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan, dan semua yang sudah terjadi ini insyaAllah adalah yang terbaik dari-Nya. Semua kejadian ini membuat kami semakin sabar, dan syukur, alhamdulillah. Kita bukan apa-apa tanpa Allah.

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS An Naml : 19)

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS AL Ahqaf : 15)

Bicara di Depan Umum

Sedikit menorehkan kata, lebih tepatnya curhat.

Sudah jadi rahasia umum, dari dulu saya selalu menghindar kalo diminta ngomong di depan umum. Jangankan ngomong, di rapat aja agak gimana gitu kalo ga terpaksa. Kalo ga percaya bisa dicek ke temen-temen saya semasa di kampus. Bahkan suami saya juga ikutan gemes, hehe..

Padahal di buku catatatn mimpi saya, tertulis bahwa saya ingin membina majelis taklim. Biasanya majelis taklim itu kan kelas besar. Mau ga mau ya harus ngomong.

Hmm, rasanya saya terkungkung dengan kondisi yang saya buat sendiri. Keinginan besar yang tidak diimbangi dengan usaha. Mau sampai kapan?

Hingga kemarin, saat membahas usulan agenda buat para pelajar di daerah, saya nyeplos kasih usul. Dan entah kenapa, temen saya langsung menunjuk saya sebagai salah satu pembicaranya.

Agak kaget tapi tetep santai. Entah kenapa kali ini tidak ada rasa deg-degan atau grogi. Santai banget. Cuma fokus di doa dan usaha. Dan alhamdulillah, untuk pertama kalinya, kemarin saya ngomong di atas panggung selama sejam lebih, di hadapan puluhan pelajar. Dan yang bikin senang, mereka antusias, aktif, banyak bertanya. Alhamdulillah.

Ternyata begini to rasanya, tidak semengerikan yang dibayangkan.

Udah gitu aja. Itung-itung buat latihan nulis lagi, setelah 4 tahun lebih vakum ga nulis, hiks..

*sungkem ke suami

Harga Madre Argan Oil Mahal?

Sebagaimana yang sudah kita ketahui, argan oil atau minyak argan memiliki manfaat yang sangat banyak untuk perawatan kulit dan juga tubuh. Minyak sejuta manfaat ini oleh para ahli dan pakar kecantikan dunia disebut sebagai liquid of gold.

Untuk Madre Argan Oil sendiri dipatok Rp 150.000,- per botol dengan volume 17 ml. Ini belum termasuk ongkos kirim. Dan sampai saat ini, Madre Argan Oil belum tersedia di apotek-apotek yang ada di Indonesia.

Untuk jasa pengiriman sendiri, kami memilih lebih banyak menggunakan jasa Pos Indonesia, mengingat biayanya yang lebih murah jika dibandingkan dengan ekspedisi jasa pengiriman lainnya seperti JNE dan TIKI. Meskipun demikian, apabila customer menginginkan pengiriman menggunakan ekspedisi jasa pengiriman JNE atau yang lain, tetap kami layani, dengan catatan semua ongkos kirim tetap ditanggung oleh customer.

Madre Argan Oil mahal?

“Waah, pengen. Tapi kok mahal ya?”

Begitulah kira-kira komentar sebagian besar calon customer. Memang inilah faktanya. Harga Madre Argan Oil sesuai dengan harga standart dunia, dimana Argan Oil sebagai Carrier Oil yang paling mahal jika dibandingkan jenis minyak natural lainnya semacam minyak zaitun.

Sebagai perbandingan, Madre Argan Oil ini langsung diimport dari Maroko, memiliki kemurnian dan keaslian 100%. Ini sesuai dengan standart keamanan Organic Cosmetic Dunia yang ada di Eropa (Eco Cert). Dan jika dibandingkan dengan Argan Oil yang memiliki spesifikasi serupa dengan merk Josie Maran yang biasa dijual di Amazon.com, jelas harga Madre Argan Oil jauh lebih murah dan bersahabat.

Ongkos kirim untuk Madre Argan Oil vargan oil sejenis seperti merk Josie Maran ukuran 15 ml seharga $15. Jika dirupiahkan dengan menggunakan kurs Indonesia saat ini Rp 13.200,-, maka harganya jadi Rp 198.000,-. Ini belum ditambah dengan ongkos kirim dari Amerika ke Indonesia yang rata-rata berkisar Rp 300.000,- sampai Rp 500.000,-. Perbedaannya jauh bukan?

Jadi bagaimana? Keputusan bijak ada di tangan Anda sendiri 🙂

Cara Tepat Memakai Madre Argan Oil

Ada banyak pertanyaan seputar cara menggunakan argan oil. Apalagi dibilangnya 17 ml bisa untuk 2 bulanan. Gimana bisa? Apa bisa maksimal? Tentu bisa dong.

Nah berikut cara menggunakan argan oil untuk mendapatkan wajah yang bersih dan cerah alami.

1. Bersihkan muka

Membersihkan muka merupakan syarat mutlak sebelum memakai argan oil. Bisa dengan pembersih Sabun muka (herbal lebih baik), sabun bayi, atau bisa juga Sabun pembersih yang sudah biasa dipakai. Nah tapi, akan lebih baik lagi jika membersihkan muka dengan minyak VCO atau bisa juga dengan minyak zaitun.

Caranya,
a. Tuang VCO atau minyak zaitun ke tangan, kemudian ratakan di muka dengan pijatan lembut, sampai terasa bener-bener merata dan bersih. Usahakan untuk membersihkan seluruh bagian muka yang terkena make up.

b. Siapkan 2 handuk yang lembut dan celup dengan air hangat lalu peras sampai airnya tidak menetes, lalu ela ke muka secara perlahan. Kemudian gunakan handuk kedua sebagai bilasan dan lap muka dengan handuk kering.

2. Berikan nutrisi tambahan pada kulit

Nutrisi pada kulit bisa didapatkan dari irisan jeruk lemon atau irisan tomat. Caranya, oleskan lemon atau tomat yang telah diiris, ratakan, dan tunggu 15-30 menit sampai meresap dan kering, kemudian bilas dengan air hangat dan lap kering.

3. Pakai Madre Argan oil

Pakailah madre argan oil di wajah sedikit demi sedikit saja, jangan langsung banyak. Ga perlu sampai berkilau, yang penting rata. Caranya, tuangkan Madre Argan Oil seujung jari tangan saja kemudian ratakan, jika kurang ambil seujung jari lagi lalu ratakan di seluruh wajah dan leher sambil dipijat pelan-pelan dan lembut. Jika dipakai pada malam hari, biarkan saja sampai pagi tanpa perlu dibilas.

Jika hendak menggunakannya di pagi hari dan harus memakai makeup / bedak, atau akan beraktifitas di luar rumah, sebaiknya dibilas setelah argan oil nya meresap dan kering. Akan tetapi jika kulit tidak sensitif, argan oil tidak perlu dibilas, dan bisa dilanjutkan memakai bedak.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, gunakan argan oil secara rutin dan teratur, insyaAllah kulit akan lebih bernutrisi, dan terhindar dari berbagai keluhan kulit seperti jerawat, flek hitam, penuaan dini serta kerutan.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.