Category Archives: Blog

Tazkiyatun Nafs dan Toilet Training

Awal dikasih amanah sama Allah berupa bayi mungil nan shalih Farid Zakaria, saya begitu optimis bakal bisa menjalankan apa-apa yang sudah saya pelajari jauh hari sebelum menikah dengan baik. Tak terkecuali masalah toilet training.

Dari lahir sampai sekitar usia 2 bulanan, saya lebih sering pakein popok kain, dan mulai usia 3 bulan lebih sering menggunakan clodi. Akan tetapi karena waktu itu masih jaman susah banget, clodi cuma punya ga lebih dari 5 biji kalo ga salah dan saya LDM sama suami, ditambah juga ngurus santri bocils yang butuh tenaga ekstra, alhasil saya rada kewalahan.

Dari situlah permasalahan mulai muncul. Saya mulai nyerah. Akhirnya saya pake pospak untuk Farid. Tapi makin buruk lagi karena keterusan. Merasa berdosa banget? Iya. Tapi rasa-rasanya saya tak bisa apa-apa. Malu? Iya banget. Tapi apalah daya. Ngeluh ke suami, sampe kapan mau kayak gini. Tapi nampaknya belum ada solusi konkret.

Tak jarang saya sering uring-uringan karena masalah ini. Menganggap anak ga paham-paham. Lah? Maafkan bunda ya nak, sudah banyak salah ke kamu. Harusnya bunda yang memahamimu, bukan kamu yang memahami bunda. Astaghfirullah. Hiks..

Akhirnya saya coba ‘semeleh’. Dah, ngalir aja, pelan-pelan, sambil disounding terus.

Saya coba lakukan tazkiyatun nafs. Kali ini lebih digenjot. Biarlah Allah yang menuntun. Dia yang punya hati. Aku, bundanya, tidak berdaya apa-apa.

And do you know? Apa yang terjadi setelah saya intens tazkiyatun nafs itu?

MasyaAllah, laahaula walaa quwwata illabillaah.. Sungguh, Allah lah yang menggerakkan, Allah lah yang menuntun, memberi petunjuk. Anak saya, Farid, begitu mudahnya diajari toilet training. Sehari dua hari masih ada kebobolan, tapi paling cuma 10% saja, selebihnya sukses. Dan tidak ada seminggu, sudah sukses, masyaAllah.

Ini pengalaman yang menurut saya berharga banget. Memang tidak se wow dengan proses anak-anak lain, mungkin, tapi ini menurut saya adalah wow banget.

Ahamdulillah ‘ala kulli hal.

“Sungguh, andai kita hanya mengandalkan kemampuan kita saja dalam mendidik anak-anak kita, tentulan anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang kacau dan durhaka.

Namun, Allah tak pernah tidur mengintervensi dan memperbaiki segala kelemahan dan kesalahan kita dalam mendidik anak-anak kita.

Maka setiap malam sebelum tidur bermohonlah kepada Allah agar Ia mendidik anak-anak kita, serta mengkoreksi segala kesalahan dan kelemahan kita”

(Ust. Aad)

Kami Sembuh dengan Al Qur’an

Pasca ruqyah itu, alhamdulillah, pelan-pelan kehidupan kami mulai ‘normal’. Saya fokus ke pemulihan kesehatan baby dan saya sendiri dan juga penjagaan kesehatan suami dan si sulung. Percaya atau tidak, penyakit yang lama bersarang itu menunjukkan kemajuan yang drastis, ibarat kata, penyembuhan itu sudah berlangsung 75% lebih.

Sebelum ini, saya juga sempet meruqyah ibu saya. Ceritanya ibu saya mendadak ada gangguan telinga, sehingga tidak bisa mendengar, kalopun bisa harus dengan volume yang besar. Ga jarang hal ini membuat orang di sekitar beliau menjadi jengkel. Saat diperiksakan ke THT juga tidak ada gejala apa-apa, semua normal banget. Akhirnya kami (saya, suami, dan anak-anak) menyempatkan pulang. Saya ‘wawancara’ ibu saya, dan fiks, ini sepertinya ‘gangguan’. Akhirnya saya coba sebisa saya meruqyah ibu saya. Dan saya pesankan ke ibu untuk melakukan beberapa hal sebagai ikhtiar lanjutan. Alhamdulillah, beberapa pekan setelahnya, saya mendapat kabar kalo telinga ibu saya sudah hampir sembuh 100%. MasyaAllah, alhamdulillah, Allahu akbar. Maka nikmat-Mu yang mana yang akanaku dustakan.

Jadi inget juga, dulu sekali saya juga pernah sakit, waktu itu saya belum begitu ‘kenal’ dan ‘percaya’ ruqyah, saya hanya meniatkan tilawah saya untuk mengobati sakit yang saya derita saat itu, dan masyaAllah, atas ijin Allah, penyakit saya saat itu hampir 100% sembuh. It’s amazing, masyaAllah. Al Qur’an itu syifa’. Do you believe it? Ya, saya yakin, akan ada orang yang tidak percaya hal ini, tapi saya sudah membuktikan sendiri beberapa kali. Yap, ini adalah masalah keimanan. Sebagaimana masalah rezeki yang sering dikampanyekan oleh Ustadz Yusuf Mansur. Kalo tidak percaya, ya mungkin ga bakal terjadi. Prasangka Allah mengikuti prasangka hamba-Nya.

Dalam hal ibadah, saya juga merasakan ringan sekali, masyaAllah. Badan enteng, serasa habis melahirkan, yang dosa-dosanya diampuni Allah. Rasanya tak mau sedikitpun diri ini tertempeli noda-noda lagi, pengen seperti itu terus, ‘bersih’. Keluhan-keluhan yang biasanya dialami oleh suami jug alhamdulillah, dengan ijin Allah, tidak lagi menghampiri.

Oh iya, sejak ruqyah itu, saya menjadi sangat sensitif sekali. Katakanlah dalam hal makanan. Beberapa kali ‘terpaksa’ membeli makanan di luar, yang sekilas nampak halalan thayyiban, namun ternyata badan saya langsung bereaksi. Entah saya mendadak tepar atau bahkan sampai keluar lagi lewat muntah. Ya, badan saya menolak makanan yang ‘tidak sehat’.

Dan sampai saat ini, kalau inget kejadian-kejadian yang berbulan-bulan itu, yang terasa sangat berat (menurut saya), rasanya bersyukur banget, Allah kasih jalan untuk keluar dari permasalahan tersebut. Dan PR ini belumlah usai. Masih ada PR-PR lain yang harus kami selesaikan.

Berharap, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan kesabaran untuk tetap istiqomah memperbaiki diri.

Cerita Tentang Sugus (Lanjutan)

Rada bingung mau mulai dari mana. Sebenernya, awalnya saya hanya iseng posting tentang tulisan pengalaman ‘mistis’, di luar dugaan ternyata banyak yang respon. Baiklah, saya akan berusaha penuhi janji saya.

Pasca kejadian sugus itu, setelah kami ruqyah dan kami kembalikan ke pengirim, alhamdulillah, hidup kami kembali aman, damai, dan tenang. Ibadah pelan-pelan mulai pulih. Tapi satu hal yang masih nempel, kami sekeluarga masih bergantian sakitnya. Sakit terparah dialami oleh saya sendiri, rekor hampir 3 bulan. Saya sembuh, suami nyusul sakit, kemudian Farid. Terakhir Elina, yang ini juga lumayan, tapi masih lebih parah saya. Tapi gimana sih rasanya, bayi sakit ga kunjung sembuh. Pijat refleksi, ruqyah (sebisanya saya dan suami), sampe terakhir ikhtiar ke nakes tapi belum menampakkan hasil yang menggembirakan. Capek, hampir putus asa. Jelas banget. Sebagai perempuan, yang baper, tak jarang saya nangis liat kondisi seperti ini.

Pada akhirnya, saya ceritakan semua yang saya alami ke mertua. Termasuk gangguan yang saya lihat dalam ‘tidur’.

Beberapa hari terakhir, gangguan muncul kembali. Dimulai dari pagi hari pas nyapu rumah, tetiba muncul klabang. Lalu malam harinya, tindihan, melihat ada yang ngintip dari jendela kamar, anak kecil sama hewan, ntah apa saya ngga merhatiin. Kaget banget, kok malem-malem ada anak kecil ngintip. Spontan saya bacain syahadat, berkali-kali ga pergi-pergi itu yang ngintip. Ternyata, di luar (dalam mimpi), anak kecil itu ga sendirian. Rasanya rame, lebih dari 3 sugus sepertinya. Dalam mimpi (tindihan itu), saya kejar terus pake telunjuk syahadat, mereka lari, tapi ketengkep satu, langsung saya habisi. Alhamdulillah, dengan kekuatan dari Allah, tidak ada rasa takut sedikitpun saat itu. Tapi anak kecil yang ngintip itu juga ga bergeming. Sampe akhirnya saya kebangun, ngos ngosan. Langsung baca ayat-ayat ruqyah, dan saya usap ke tubuh seluruh anggota keluarga.

Pagi hari cerita ke suami, bahwa saya capek hidup penuh gangguan.

Gangguan belum selesai kawan. Malam harinya, sambil mijitin Farid, saya ketiduran, tindihan lagi. Saya lihat ada keranda di kamar dan pocong tidur di samping, kaget, belum sempet baca apa-apa alhamdulillah udah kebangun.

Tapi di antara semua itu, paling sedih kalo liat Elina tiap pagi nafasnya ngos ngosan, bunyi, berat banget. Ga jarang saya nangis sendiri liat kondisi begini terus. Saya tau banget gimana rasanya. Saking capeknya, kita sempet terpikir pergi dari sini, ga tinggal disini lagi, tapi masih mikir tanggung jawab yang sudah ‘terlanjur’ kita ambil.

And then, alhamdulillah, akhirnya Abah turun tangan langsung. Meruqyah. Ruqyah berlangsung selama lebih dari 3 jam, itupun diakhiri karena baby Elina sudah butuh ASI dan saya sudah lemas hampir pingsan. Alhamdulillah, setelah ruqyah, rumah saya terasa lebih ‘terang’, badan saya enteng banget, hati lebih tenang. Pun suami juga demikian. Alhamdulillah.

Tapi kami sadar, bahwa ini bukan akhir. Bisa jadi masih akan ada serangan-serangan lagi, wallahu a’lam. Dalam keadaan seperti ini, sangat terasa betapa kita tidak bisa apa-apa tanpa Allah.

FYI : ini hanya sebagian kecil cerita kami. Alhamdulillah, Allah Maha Baik, yang tidak pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan, dan semua yang sudah terjadi ini insyaAllah adalah yang terbaik dari-Nya. Semua kejadian ini membuat kami semakin sabar, dan syukur, alhamdulillah. Kita bukan apa-apa tanpa Allah.

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS An Naml : 19)

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS AL Ahqaf : 15)

MICROPHONE-story

Bicara di Depan Umum

Sedikit menorehkan kata, lebih tepatnya curhat.

Sudah jadi rahasia umum, dari dulu saya selalu menghindar kalo diminta ngomong di depan umum. Jangankan ngomong, di rapat aja agak gimana gitu kalo ga terpaksa. Kalo ga percaya bisa dicek ke temen-temen saya semasa di kampus. Bahkan suami saya juga ikutan gemes, hehe..

Padahal di buku catatatn mimpi saya, tertulis bahwa saya ingin membina majelis taklim. Biasanya majelis taklim itu kan kelas besar. Mau ga mau ya harus ngomong.

Hmm, rasanya saya terkungkung dengan kondisi yang saya buat sendiri. Keinginan besar yang tidak diimbangi dengan usaha. Mau sampai kapan?

Hingga kemarin, saat membahas usulan agenda buat para pelajar di daerah, saya nyeplos kasih usul. Dan entah kenapa, temen saya langsung menunjuk saya sebagai salah satu pembicaranya.

Agak kaget tapi tetep santai. Entah kenapa kali ini tidak ada rasa deg-degan atau grogi. Santai banget. Cuma fokus di doa dan usaha. Dan alhamdulillah, untuk pertama kalinya, kemarin saya ngomong di atas panggung selama sejam lebih, di hadapan puluhan pelajar. Dan yang bikin senang, mereka antusias, aktif, banyak bertanya. Alhamdulillah.

Ternyata begini to rasanya, tidak semengerikan yang dibayangkan.

Udah gitu aja. Itung-itung buat latihan nulis lagi, setelah 4 tahun lebih vakum ga nulis, hiks..

*sungkem ke suami

duit

Utang

Pernah ngutang? Apa yang kamu lakukan kalo misalkan punya utang? Memprioritaskan untuk segera melunasinya ketika sudah ada uang, ataukah mengulur-ulur sampai orang yang dihutangi bosen nagih, bahkan hampir-hampir nyewa debt collector?

Saya sendiri termasuk orang punya utang dimana-mana. Bukannya sombong sih, tapi emang butuh ngutang. Selain itu, belom terasa lengkap persahabatan kalo belom ngutang, hehehe..

Kebiasaan saya dari dulu ketika punya utang adalah mencatatnya dalam buku khusus, mengantisipasi biar ngga lupa, meskipun sebenernya ada peluang untuk tidak membayarnya, karena peluang besar orang yang saya hutangi itu lupa. Tapi saya ngga mau gitu, enak di dunia ngga enak di akhirat. Ngga kuat bayarnya nanti. Orang syahid aja yang dijamin masuk surga tetep harus nyelesein masalah utang-piutangnya sebelum bener-bener dimasukin ke surga sama Allah. Kalo ga salah yang pernah saya denger sih gitu. CMIIW.

Oke.. Lalu bagaimana ketika kita di posisi orang yang dihutangi?

Saya dan suami sendiri, biar ngga kaya-kaya amat, tapi sering dianggap kaya (alhamdulillah), juga ngga sering dihutangi. Macam-macam jalannya. Ada yang emang datang dan ‘nembung’ buat ngutang, ada juga yang ngutangnya berawal dari kerjasama proyek apa gitu.

Mungkin karena salah kita juga sih ya, tidak tegas di awal, ngga pake surat kesepakatan, jadi ya terima resiko. Biasanya orang yang ngajak kerjasama, minta segera kita menunaikan apa yang harus kita lakukan untuk mereka, dengan imbalan sekian rupiah. Namun dalam kenyataannya, setelah tugas kita selesai tertunaikan, ternyata hak yang harusnya kita terima tidak juga tertunaikan. Pfft.. Nyebelin ngga sih? Apalagi untuk orang yang masih sering eslemon kayak saya gini. Pastinya, nyebeliiiinnn banget.

Lalau apa yang seharusnya kita lakukan?

Sebenernya mengingatkan (menagih) orang yang belum menunaikan hak kita itu kan wajib. Bahkan sebenernya kita telah membantu mereka.

mom children

Anak Selamanya

Meski tubuhmu semakin besar, gelarmu semakin banyak, ilmu-mu semakin tinggi,kedudukanmu semakin terhormat, hartamu berlimpah, wahai anak, engkau tetaplah anak di mata kedua orang tuamu (Ibu Wirianingsih)

Anak. Sampai kapanpun tetaplah seorang anak. Walaupun telah menjadi seorang ayah atau ibu, dia tetaplah anak di mata orang tuanya. Yang mana orang tua akan terus rela berkorban meski sang anak sudah berkeluarga. Yang mana orang tua akan rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anak. Iya bukan?

Anak. Sejak dalam kandungan mungkin sudah merepotkan orang tua. Bahkan sampai tua-pun, saat orang tua masih ada, anak tetaplah anak yang akan terus merepotkan orang tua.

Kadang suka sedih mengingat diri ini yang masih sering mengabaikan orang tua, masih sering membentak dan menyakiti orang tua. Sedih. Menangis. Tapi mungkin itulah manusia. Ketika minta tolong maunya segera ditolong, tapi giliran dimintai tolong malas-malasan melakukan. Padahal yang namanya orang tua, biarpun dalam keadaan sibuk akan tetap menolong anaknya semampu yang ia lakukan. Tapi anak? Menunda, membentak. Astaghfirullah..

Allah.. jadikan kami dan anak-anak kami menjadi insan yang berbakti penuh kepada orang tua.

 

Photo by David C. Schultz

Memeluk Mimpi

Tiada yang lebih berharga dari hidup ini selain hidayahNya yang teramat mahal. Menggadaikan diri di jalan dakwah, serta bertekad untuk menjadi penjaga ayat-ayat langitNya.

Sejenak merenung tentang secuplik perjalanan hidupku untuk menjadi bagian dari penjaga itu. Flashback. Sejak kecil, aku sudah belajar Al Qur’an, tapi mungkin semuanya berjalan secara alami. Orang tuaku tak pernah memaksaku. Entah apa yang mendorongku, yang kutau dan yang kuyakini saat itu, bahwa kitab umat Islam adalah Al Qur’an, dan aku merasa bahwa aku harus mempelajarinya.

Setiap hari, aku rajin ke mushola, sholat berjama’ah kemudian ngaji Al Qur’an di depan ustadz bersama teman-teman. Ketika ada sehari bolong saja, rasanya menyesal luar biasa, tertinggal dari yang lain.

Aku dibesarkan dari keluarga NU, yang aku tau, bahwa ada semacam tradisi yang tidak sreg di hati tentang Al Qur’an ini. Banyak di antara mereka yang mempelajari tajwid, bahkan mengajarkannya kepada orang lain, namun yang sering pula aku jumpai, bacaannya masih banyak yang kacau. Maka, ‘pertempuran’ pun terjadi dalam hatiku.

Di satu sisi, hanya di situlah tempatku belajar, di sisi lain aku merasa butuh tempat yang lebih baik lagi. Akhirnya aku putuskan untuk tetap bertahan dengan terus berusaha memperbaiki kualitas bacaan. Masa SD, SMP, hingga SMA, kemampuan menghafal begitu cepat meski waktu itu aku belum begitu paham esensi sesungguhnya. Tapi aku akui, hafalanku dari SD hingga SMA itu masih melekat hingga sekarang.

Sekitar awal tahun 2009, aku dipertemukan Allah dengan sebuah keluarga yang senantiasa menjaga ayat-ayatNya. Dari sanalah, aku mendapatkan banyak nasehat, petuah, atau apapun itu, hingga akhirnya aku bertekad untuk memperbaiki bacaan dan menghafalkannya kembali dari awal, dengan harapan, kualitas hafalanku semakin baik.

Di tengah-tengah aktifitasku yang bisa dibilang tiada jeda, aku sempatkan belajar Al Qur’an, privat dengan seorang ustadzah. Apresiasi positif dari ustadzah, karena memang perkembanganku luar biasa pesat, begitu katanya. Semua itu membuatku semakin terpacu untuk lebih baik lagi, dan berlanjut ke tahap berikutnya, yaitu tahfidzul Qur’an.

Aku mulai melukisnya dalam sebuah goresan pena di kanvas mimpi-mimpiku, lalu aku menghujamkan dengan amat kuat dalam hati. Aku susun langkah-langkah yang akan aku jalani untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu, tak lupa doa terus kupanjatkan. Berbagai kejutan pun didatangkan oleh Allah. Hampir setiap saat aku dipertemukan dengan orang-orang yang juga senantiasa menjaga ayat-ayatNya. Dan semua itu, membuat keinginanku semakin membuncah.

Bermimpilah, dan Allah akan memeluk mimpi-mimpimu. Paling tidak, itu salah satu hal yang sangat aku yakini. Bermimpi, berikhtiar, dan menyandarkan hanya kepadaNya.