Tag Archives: Al Qur’an

Kami Sembuh dengan Al Qur’an

Pasca ruqyah itu, alhamdulillah, pelan-pelan kehidupan kami mulai ‘normal’. Saya fokus ke pemulihan kesehatan baby dan saya sendiri dan juga penjagaan kesehatan suami dan si sulung. Percaya atau tidak, penyakit yang lama bersarang itu menunjukkan kemajuan yang drastis, ibarat kata, penyembuhan itu sudah berlangsung 75% lebih.

Sebelum ini, saya juga sempet meruqyah ibu saya. Ceritanya ibu saya mendadak ada gangguan telinga, sehingga tidak bisa mendengar, kalopun bisa harus dengan volume yang besar. Ga jarang hal ini membuat orang di sekitar beliau menjadi jengkel. Saat diperiksakan ke THT juga tidak ada gejala apa-apa, semua normal banget. Akhirnya kami (saya, suami, dan anak-anak) menyempatkan pulang. Saya ‘wawancara’ ibu saya, dan fiks, ini sepertinya ‘gangguan’. Akhirnya saya coba sebisa saya meruqyah ibu saya. Dan saya pesankan ke ibu untuk melakukan beberapa hal sebagai ikhtiar lanjutan. Alhamdulillah, beberapa pekan setelahnya, saya mendapat kabar kalo telinga ibu saya sudah hampir sembuh 100%. MasyaAllah, alhamdulillah, Allahu akbar. Maka nikmat-Mu yang mana yang akanaku dustakan.

Jadi inget juga, dulu sekali saya juga pernah sakit, waktu itu saya belum begitu ‘kenal’ dan ‘percaya’ ruqyah, saya hanya meniatkan tilawah saya untuk mengobati sakit yang saya derita saat itu, dan masyaAllah, atas ijin Allah, penyakit saya saat itu hampir 100% sembuh. It’s amazing, masyaAllah. Al Qur’an itu syifa’. Do you believe it? Ya, saya yakin, akan ada orang yang tidak percaya hal ini, tapi saya sudah membuktikan sendiri beberapa kali. Yap, ini adalah masalah keimanan. Sebagaimana masalah rezeki yang sering dikampanyekan oleh Ustadz Yusuf Mansur. Kalo tidak percaya, ya mungkin ga bakal terjadi. Prasangka Allah mengikuti prasangka hamba-Nya.

Dalam hal ibadah, saya juga merasakan ringan sekali, masyaAllah. Badan enteng, serasa habis melahirkan, yang dosa-dosanya diampuni Allah. Rasanya tak mau sedikitpun diri ini tertempeli noda-noda lagi, pengen seperti itu terus, ‘bersih’. Keluhan-keluhan yang biasanya dialami oleh suami jug alhamdulillah, dengan ijin Allah, tidak lagi menghampiri.

Oh iya, sejak ruqyah itu, saya menjadi sangat sensitif sekali. Katakanlah dalam hal makanan. Beberapa kali ‘terpaksa’ membeli makanan di luar, yang sekilas nampak halalan thayyiban, namun ternyata badan saya langsung bereaksi. Entah saya mendadak¬†tepar atau bahkan sampai keluar lagi lewat muntah. Ya, badan saya menolak makanan yang ‘tidak sehat’.

Dan sampai saat ini, kalau inget kejadian-kejadian yang berbulan-bulan itu, yang terasa sangat berat (menurut saya), rasanya bersyukur banget, Allah kasih jalan untuk keluar dari permasalahan tersebut. Dan PR ini belumlah usai. Masih ada PR-PR lain yang harus kami selesaikan.

Berharap, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan kesabaran untuk tetap istiqomah memperbaiki diri.

Photo by David C. Schultz

Memeluk Mimpi

Tiada yang lebih berharga dari hidup ini selain hidayahNya yang teramat mahal. Menggadaikan diri di jalan dakwah, serta bertekad untuk menjadi penjaga ayat-ayat langitNya.

Sejenak merenung tentang secuplik perjalanan hidupku untuk menjadi bagian dari penjaga itu. Flashback. Sejak kecil, aku sudah belajar Al Qur’an, tapi mungkin semuanya berjalan secara alami. Orang tuaku tak pernah memaksaku. Entah apa yang mendorongku, yang kutau dan yang kuyakini saat itu, bahwa kitab umat Islam adalah Al Qur’an, dan aku merasa bahwa aku harus mempelajarinya.

Setiap hari, aku rajin ke mushola, sholat berjama’ah kemudian ngaji Al Qur’an di depan ustadz bersama teman-teman. Ketika ada sehari bolong saja, rasanya menyesal luar biasa, tertinggal dari yang lain.

Aku dibesarkan dari keluarga NU, yang aku tau, bahwa ada semacam tradisi yang tidak sreg di hati tentang Al Qur’an ini. Banyak di antara mereka yang mempelajari tajwid, bahkan mengajarkannya kepada orang lain, namun yang sering pula aku jumpai, bacaannya masih banyak yang kacau. Maka, ‘pertempuran’ pun terjadi dalam hatiku.

Di satu sisi, hanya di situlah tempatku belajar, di sisi lain aku merasa butuh tempat yang lebih baik lagi. Akhirnya aku putuskan untuk tetap bertahan dengan terus berusaha memperbaiki kualitas bacaan. Masa SD, SMP, hingga SMA, kemampuan menghafal begitu cepat meski waktu itu aku belum begitu paham esensi sesungguhnya. Tapi aku akui, hafalanku dari SD hingga SMA itu masih melekat hingga sekarang.

Sekitar awal tahun 2009, aku dipertemukan Allah dengan sebuah keluarga yang senantiasa menjaga ayat-ayatNya. Dari sanalah, aku mendapatkan banyak nasehat, petuah, atau apapun itu, hingga akhirnya aku bertekad untuk memperbaiki bacaan dan menghafalkannya kembali dari awal, dengan harapan, kualitas hafalanku semakin baik.

Di tengah-tengah aktifitasku yang bisa dibilang tiada jeda, aku sempatkan belajar Al Qur’an, privat dengan seorang ustadzah. Apresiasi positif dari ustadzah, karena memang perkembanganku luar biasa pesat, begitu katanya. Semua itu membuatku semakin terpacu untuk lebih baik lagi, dan berlanjut ke tahap berikutnya, yaitu tahfidzul Qur’an.

Aku mulai melukisnya dalam sebuah goresan pena di kanvas mimpi-mimpiku, lalu aku menghujamkan dengan amat kuat dalam hati. Aku susun langkah-langkah yang akan aku jalani untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu, tak lupa doa terus kupanjatkan. Berbagai kejutan pun didatangkan oleh Allah. Hampir setiap saat aku dipertemukan dengan orang-orang yang juga senantiasa menjaga ayat-ayatNya. Dan semua itu, membuat keinginanku semakin membuncah.

Bermimpilah, dan Allah akan memeluk mimpi-mimpimu. Paling tidak, itu salah satu hal yang sangat aku yakini. Bermimpi, berikhtiar, dan menyandarkan hanya kepadaNya.