Tag Archives: daily activities

Negosiasi

Siang hari, di sela-sela aktivitas, tiba-tiba Farid datang, dan melakukan negosiasi kepada saya agar dibelikan mainan. Memang sudah beberapa hari setiap diajak keluar, Farid hampir selalu bilang pengen beli mainan, tapi kami terus berusaha membujuknya agar tidak beli mainan.

Tetapi kali ini beda, Farid negosiasi waktu kami tidak dalam kondisi mau pergi.

F : “Bunda, Farid mau dibeliin mainan. Yang pemadam kebakaran fire truck, mobil polisi police car, ambulance yang ada garasinya itu lho, yang bisa bla bla bla” (Farid melafalkan bahasa Inggris nya dengan fasih, alhamdulillah)

B : “Banyak banget. Kan Farid udah punya mainan banyak tu. Ada pemadam, mobil polisi juga”

F : “Tapi Farid pengen yang itu”

Bunda pun menanggapinya lebih serius dengan bahasa tubuh juga.

B : “Oo, gitu. Tapi mainan Farid dah banyak lho, tu sampe ga muat tempatnya”

F : “Yang itu disedekahin aja Bunda”

O.. O.. Alhamdulillah, senengnya Bunda, Farid mulai suka sedekah.

B : “Mmm.. Tapi mainan Farid kan banyak yanh udah rusak. Masak Farid sedekahin yang udah rusak? Emang Farid mau kalo dikasih barang yang udah rusak?”

F : “Ga mau. Tapi Farid kan pengen mainan itu”

B : “Mainan Farid udah banyaaaaakk banget, sampe rumahnya ga muat. Rumah kita kan kecil, nanti jadi sempit, trus gimana?” Bundapun ngajak dia berfikir

F : “Kan nanti bikin garasi, biar rumahnya ga sempit”

Ya salam, masyaAllah, ini bocah subhanallah.

B : (sambil tersenyum sedikit tertawa) “Garasi? Bikinnya dimana Nak? Kan kita belum punya rumah sendiri”

F : “Di sana itu lho Bunda”

B : “Mm.. Belum bisa ya Nak, maaf ya. Farid sabar ya, main dengan yang ada dulu ya. InsyaAllah mainan Farid dah banyak kok”

F : “Iya ya Bunda, mainan Farid udah buanyak ya?”

Akhirnya luluh juga đŸ˜€

Negosiasi seperti ini sudah sering kami lakukan, ada kalanya kami yang luluh, tapi tak jarang pula Farid yang luluh. Ya apapun itu, kami berusaha mengajarkan bahwa apapun yang dia minta, tak harus dituruti. Ada orang lain yang perlu dibagi.

#Day7
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Meletakkan Mainan pada Tempatnya

Tiada hari tanpa bermain. Itulah anak-anak, karena memang itulah dunianya. Tak terkecuali Farid. Tak jarang dia menuang semua mainannya ke lantai, alhasil tak jarang pula dia secara tak sengaja menginjak mainannya dan menangis karena kesakitan.

Seperti kemarin, tiba-tiba Farid menghampiri saya dengan menangis.

F : “huhuhuhuhu..” (nangis)

B : “Farid kenapa?”

F : “Kaki Farid sakit, abis nginjek mainan”

B : “Ooh.. Mana yang sakit? Sini Bunda doain”

Faridpun ngasih tau dan Bunda doain. Tangisnya pun reda setelah Bunda selesai doain.

B : “Dah, insyaAllah nanti disembuhin Allah”

F : (mengangguk)

B : “Farid, tadi sakit ya kakinya? Nah biar Farid ga nginjek mainan lagi, mainannya diberesin ya. Kan sakit kalo keinjek, Bunda jadi sedih”

F : bergegas ke ruang tengah dan membereskan mainan.

Tak berapa lama, saya ngecek kerjaan dia, alhamdulillah memang diberesin walaupun belum tuntas (versi dewasa/saya), tapi dari peristiwa itu dia belajar tanggung jawab dan lebih hati-hati, meskipun masih sering berulang, yah namanya juga anak kecil, hehe.. Ohya, FYI Farid ini usianya 3,5tahun.

Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tathimushshaalihaat.

#Day6
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

(Tidak Boleh) Ikut ke Mesjid

Mengenalkan anak laki-laki bahwa sholat berjamaah di masjid adalah sebuah keharusan. Saya kira tidak ada yang tidak setuju dengan hal ini. Kami sendiri (saya dan suami) juga insyaAllah sudah mengenalkan ke anak kami sejak dini. Pengenalan yang paling mudah adalah, suami berpamitan ke anak ketika hendak ke mesjid, dan itu dilakukan sejak Farid masih bayi, bahkan masih dalam perut saya.

Ketika sudah beranjak besar, tentunya sang anak punya keinginan untuk ikut juga ke mesjid. Alhamdulillah, sebuah anugerah luar biasa dari Allah.

Tak jarang saat hendak ke mesjid, terjadi negosiasi antara kami dengan Farid.

* * *

F : “Ayah, Farid mau ikut ke mesjid”

A : “Ga boleh sayang, kan maghrib”

F : “Bunda, Farid mau ikut Ayah ke mesjid” (sambil merajuk)

B : “Maaf ya nak, Farid belum boleh ikut Ayah ke mesjid kalo maghrib, soalnya Farid masih kecil”

F : “Emang kenapa?”

B : “Waktu maghrib itu, banyak setan berkeliaran. Kata Rasulullah juga ga boleh. Nanti kalo diganggu setan gimana? Kan Ayah Bunda jadi sedih”

A : “Iya Farid, Farid boleh ikut ke mesjid selain sholat  maghrib”

F : “Berarti kalo sholat dzuhur sama sholat asar, Farid boleh ikut ke mesjid?”

A-B : “InsyaAllah”

B : “Tapi di mesjid ga boleh rame ya, ga boleh berisik, ga boleh teriak-teriak. Masjid buat apa?”

F : “Masjid buat sholat sama ngaji”

B : “Alhamdulillah, sini Bunda peluk”

* * *

Dari sini paling tidak kami menanamkan 2 hal kepada anak, yang pertama bahwa saat maghrib anak kecil itu tidak boleh berada di luar, ini sesuai juga dengan hadits Nabi (bisa disearch sendiri). Yang ke dua, bahwa masjid itu tempat sholat dan ngaji, jadi kalau di masjid tidak boleh rame sehingga mengganggu kekhusyukan yang sedang beribadah. Pun saat Farid melakukan ‘kesalahan’ tersebut, biasanya kami akan ‘menghukumnya’.

* * *

A : “Bunda, tadi Farid ikut sholat lho di mesjid, anteng, sampe selesai sholatnya”

B : “MasyaAllah, shalihnya anak Bunda. Sini Bunda peluk”

F : (Terlihat bahagia)

Di lain waktu,

A : “Bunda, tadi Farid di mesjid rame.”

B : “Laah, kenapa rame? Farid tau kan mesjid buat apa?”

F : “Masjid buat sholat sama ngaji”

B : “Jadi kalo Farid rame?”

F : “Mmmm..”

B : “Kalo gitu, besok Farid ga boleh ikut ke mesjid dulu ya, Farid dihukum, soalnya tadi rame”

A : “Maaf ya Farid, besok-besok kalo Farid ga rame, insyaAllah boleh ke mesjid lagi kok”

#Day4
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Menghindarkan Anak dari ‘Ain

Pernah ngga anak mendadak demam padahal sebelumnya sehat-sehat saja? Ataukah anak mendadak rewel padahal sebelumnya anteng-anteng saja?

Kalaupun pernah, biasanya apa yang dilakukan? Menganggap hal itu wajar, evaluasi, atau bagaimanakah?

Kalau saya, ketika mendapati suatu hal yang tidak seperti biasanya, saya terbiasa flashback, mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Semacam evaluasi, mencari penyebab kenapa bisa begini begitu, terlepas bahwa itu sudah jadi kehendak-Nya.

Sebagai contoh, ketika misalnya kita sedang mengajak anak bermain atau berinteraksi dengan orang, ga jarang kita denger pujian dari orang lain.

“Iiihh.. gemuk banget sih, embeemm.. gemesiiinn.. pipinya itu loh”

Ga berapa lama setelah dipuji, eh si anak mendadak sakit yang menyebabkan ke-embeman-nya hilang, atau apa-apa yang dipuji tadi hilang. Kalo sudah kecolongan gitu, baru deh nyesel, kenapa bisa lalai mendoakan anak.

Nah, sebagai ikhtiar untuk menghidarkan anak-anak dari ‘ain, kami sebisa mungkin mengajak anak untuk berdoa. Minimal saya sendiri yang mendoakan ketika anak-anak tidak dalam pengawasan saya atau suami.

* * *

Saat keluar pintu hendak bertemu banyak orang, atau hendak masuk mall/pasar

B : “Farid, doa dulu yuk” (Alhamdulillah Farid manut tanpa bertanya)

F : (sambil menengadahkan tangan, dia mengikuti lafal doa yang kami ucapkan, alhamdulillah juga dia udah hafal)

B : “Alhamdulillah. Farid, kalo mau pergi apalagi bertemu banyak orang kita harus doa”

F : “Emang kenapa Bunda”

B : “Agar Allah menghidarkan kita dari gangguan setan” (Saya belum menyentuh wilayah hasad)

F ; “Emang setan jahat ya Bunda?”

B : “Iya, setan itu jahat.”

F : “Farid ga mau ahh diganggu setan, jelek”

B : “Nah, kalo ga mau diganggu, kita harus sering doa”

* * *

Begitulah kira-kira, kami sering mengulang-ngulang pesan tersebut, dan kalau kami terlupa, alhamdulillah dia mengingatkan.

Rabbanaa hablanaa minashshaalihiin.

#Day3
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Tanggung Jawab pada Anak (1)

Yak, baru masuk hari kedua, dan telat  posting. (Tanpa ngeles aja lah ya, hehe..)

Dari kecil, saya berusaha untuk membiasakan anak untuk bertanggung jawab, tentunya disesuaikan dengan usianya. Tapi.. tak jarang (apa malah sering ya), yang terjadi adalah pemaksaan kehendak saya untuk anak. Astaghfirullah..

Di sinilah salahnya saya. Sebenernya bukan tidak tau, tapi mungkin karena nafsu, juga stok sabarnya masih minim pake banget, al hasil, keluarlah yang negatif-negatif ini. Ujung-ujungnya, kalo udah lewat nyesel ga ketulungan.

Tantangan ini, jujur membuat saya mau tidak mau harus lebih menambah jam terbang tazkiyatun nafs. Ya.. saya berusaha untuk menjadikan Allah yang pertama dan utama. Untuk apa? Banyak lah ya, salah satunya untuk menambah stok sabar. Salah duanya, agar Allah memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya. Salah tiganya, anak insyaAllah jadi lebih mudah di atur. Salah lainnya? Banyaakk insyaAllah. Hehe..

Nah, seperti biasa, tiap hari kehidupan anak itu adalah bermain. Seperti kemarin. Farid mengeluarkan buku-bukunya untuk dijadikan jembatan dan jalan raya kemudian mulai memainkan imajinasinya.

B : “Farid, ini buku lho, masak dijadiin buat jalan sama jembatan?”

F : “Emang kenapa Bunda? Kan Farid suka”

B : “Iya, kan buku itu ilmu, harus kita hormati, ditaruh di atas”

F : “Tapi Farid kan suka”

B : “Farid bisa pake yang lain. Ada kardus tuh”

Farid masih asik main yang lain. Tak apa, yang penting Bunda sounding terus bahwa buku itu sumber ilmu yang harus dihormati.

B : “Farid, bukunya diberesin dulu yuk. Farid boleh main yang lain kalo bukunya udah beres”

F : “Nanti Bunda. Farid masih mau main”

B : “Iya, tapi Bunda punya syarat, Farid boleh main yang lain kalo bukunya diberesin dulu. Kalo ga diberesin dulu, berarti Farid belum boleh main dulu”

F : “Farid kan capek Bunda”

B : “Bentar doang kok. Bunda bantuin yuk. Farid kan anak shalih, anak baik. Anak shalih itu tanggung jawab”

Awalnya Farid agak berat beresin, tapi lama-lama dia excited. Alhamdulillah. Dan setelah selesai.

B : “Yayy.. Farid hebat, masyaAllah. Farid shalih ya” (sambil tepuk tangan)

F : “Iya, Farid kan shalih Bunda”

* * *

Nah, balik lagi ke diri saya. Satu keberhasilan belum tentu berhasil di hari berikutnya, karena jujur, istiqomah itu tidak mudah.

“Ingatlah, anak itu amanah, dan setiap amanah itu akan dimintai pertanggungjawaban. Anak itu investasi, dan investasi terbesar kita itu adalah anak.”

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada kita para orang tua. Aamiin.

#Day2
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP