Tag Archives: Keluarga

Meminta dengan Sayang

Bismillah.

Sudah sekitar dua bulan terakhir kami memakai khadimat, itupun setelah sekian lama dirayu oleh suami dengan berbagai argumen yang insyaAllah memang logis.

Sejak ada khadimat, otomatis beberapa pekerjaan dihandle oleh khadimat, termasuk dalam beberapa urusan ‘kecil’ yang melibatkan anak.

Saya dan suami bersepakat, bahwa meskipun sudah ada khadimat, anak-anak tidak boleh bergantung sepenuhnya kepada khadimat. Katakanlah tentang urusan membereskan mainan, atau juga urusan meminta tolong. Tidak boleh ‘merendahkan’ khadimat.

Misalnya, saat anak-anak selesai main,

B : “Nak, ayo mainannya diberesin. Anak shalih itu tanggung jawab. Bunda bantu yuk”

F : “Kan nanti diberesin sama mba Wik”

B : “Kan yang maen Farid, jadi Farid yang beresin. Yuk Bunda bantuin.”

F : “Farid kan capek”

B : “Bentar doang kok. Farid baru boleh keluar kalo mainannya udaj diberesin ya”

Tanpa ada teriakan, alhamdulillah anak mau beresin, bagaimanapun hasilnya, saya dan suami selalu berusaha menghargai jerih payahnya.

Atau saat minta tolong ke khadimat, beberapa kali pake teriakan, karena memang dia sering liat orang luar melakukan hal tersebut saat meminta sesuatu kepada khadimat. Subhanallah.

B : “Nak, Farid boleh minta tolong ke mba Wik, tapi ngomongnya biasa aja ya, ga usah teriak-teriak. Dan harus bilang ‘tolong’ gitu”

F : “Emang kenapa Bunda?”

B: “Itu jelek, ga baik. Kan mba Wik udah banyak bantuin Ayah Bunda, Farid, adek, jadi Farid mesti baik sama mba Wik”

F : “Farid baik kok”

B : “Iya, alhamdulillah Farid baik. Anak shalih, jadi kalo minta tolong ke mba Wik juga yang baik ya. Farid sayang mba Wik kan?”

F : (mengangguk)

Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tatimush shaalihaat.

#Day10
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Makan Sayur itu Sehat

Bismillah.

Mungkin sudah menjadi hal yang umum balita susah makan sayur. Begitu pula yang dialami oleh sulung saya, Farid. Meskipun dulu dia penyuka sayur, tapi entah kenapa sejak menginjak usia 2 tahun Farid jadi susah makan sayur.

Siang tadi, saya kembali merayu Farid untuk makan sayur.

B : “Farid, makan yuk, pake sayur”

F : “Mmm.. Sayur apa?”

Doeng dia bertanya dulu sebelum mengiyakan atau menolak.

B : “Sayur bayem. Yuk makan yuk, biar sehat dan kuat.”

F : “Makan sayur bayem biar cepet sehat Bunda?”

B : “Ga cuma sayur bayem, sayur yang lain juga. Yuk maem ya Farid, biar sehat, kuat, cerdas”

F : “Mmm..” rupanya dia masih mikir

B : “Eh katanya Ayah abis Asar mau pergi lho. Farid ikut ga?”

F : “Pergi kemana?”

B : “Pergi naik motor, ke Gorang Gareng. Katanya Farid juga mau main ujan-ujanan?”

F : “Mau”

B : “Kalo gitu, Farid harus mau maem pake sayur, kan biar sehat. Kalo sehat kan Farid bisa jalan-jalan, bisa maen ujan-ujanan. Mau ya?”

F : “Mmm.. He eh”

B : “Oke deh”

Bunda pun menyuapinya.

B : “Bunda seneng deh, Farid mau maem sayur. Enak kan?”

F : “He eh, enak. Kan biar cepet sehat kalo maem sayur”

B : “Biar sehat Farid, bukan cepet sehat. Farid kan ga sakit”

F : “Farid sakit kok kemarin, trus maem sayur, trus cepet sehat deh”

B : “Oo gitu. Tapi yang nyembuhin siapa?”

F : “Yang nyembuhin itu Allah, Bunda”

B : “MasyaAllah”

F : “Bunda, Farid mau nambah lagi maemnya”

B : “MasyaAllah, alhamdulillah, Bunda seneng banget Farid lahap maem sayur”

#Day9
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Ayah, Pahlawan Kita

Bismillah.

Ini hari kesekian saya belum bisa, tepatnya belum boleh beraktivitas. Asisten pun belum dapet. Mau tidak mau, saya dan suami mesti menyusun strategi agar kerjaan beres, anak-anak pun tidak terlantar.

Akhirnya dibagi lah peran pengasuhan anak-anak. Dimana peran yang membutuhkan gerak fisik dihandle suami, sedangkan saya sebaliknya, menghandle yang biasanya dihandle suami, itupun tidak bisa lama-lama, wkwk.

Misalnya, masalah be*l, pip*s, mandiin, mesti suami, sedangkan saya, mentok nyuapin itupun sudah disiapin suami.

Sebenernya tidak tega juga, tapi kali ini mau tidak mau mesti tega, apalagi kedua anak kami aktif pake banget masyaAllah. InsyaAllah banyak hikmah di balik semuanya. Meskipun suami harus membagi waktu antara ngurus pesantren, melayani pertanyaan klien, melayani permintaan istri, juga mengasuh anak-anak.

Thanks Ayahnya anak-anakku, Ayah luar biasa, pahlawan kita semua, masyaAllah.

#Day8
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Negosiasi

Siang hari, di sela-sela aktivitas, tiba-tiba Farid datang, dan melakukan negosiasi kepada saya agar dibelikan mainan. Memang sudah beberapa hari setiap diajak keluar, Farid hampir selalu bilang pengen beli mainan, tapi kami terus berusaha membujuknya agar tidak beli mainan.

Tetapi kali ini beda, Farid negosiasi waktu kami tidak dalam kondisi mau pergi.

F : “Bunda, Farid mau dibeliin mainan. Yang pemadam kebakaran fire truck, mobil polisi police car, ambulance yang ada garasinya itu lho, yang bisa bla bla bla” (Farid melafalkan bahasa Inggris nya dengan fasih, alhamdulillah)

B : “Banyak banget. Kan Farid udah punya mainan banyak tu. Ada pemadam, mobil polisi juga”

F : “Tapi Farid pengen yang itu”

Bunda pun menanggapinya lebih serius dengan bahasa tubuh juga.

B : “Oo, gitu. Tapi mainan Farid dah banyak lho, tu sampe ga muat tempatnya”

F : “Yang itu disedekahin aja Bunda”

O.. O.. Alhamdulillah, senengnya Bunda, Farid mulai suka sedekah.

B : “Mmm.. Tapi mainan Farid kan banyak yanh udah rusak. Masak Farid sedekahin yang udah rusak? Emang Farid mau kalo dikasih barang yang udah rusak?”

F : “Ga mau. Tapi Farid kan pengen mainan itu”

B : “Mainan Farid udah banyaaaaakk banget, sampe rumahnya ga muat. Rumah kita kan kecil, nanti jadi sempit, trus gimana?” Bundapun ngajak dia berfikir

F : “Kan nanti bikin garasi, biar rumahnya ga sempit”

Ya salam, masyaAllah, ini bocah subhanallah.

B : (sambil tersenyum sedikit tertawa) “Garasi? Bikinnya dimana Nak? Kan kita belum punya rumah sendiri”

F : “Di sana itu lho Bunda”

B : “Mm.. Belum bisa ya Nak, maaf ya. Farid sabar ya, main dengan yang ada dulu ya. InsyaAllah mainan Farid dah banyak kok”

F : “Iya ya Bunda, mainan Farid udah buanyak ya?”

Akhirnya luluh juga 😀

Negosiasi seperti ini sudah sering kami lakukan, ada kalanya kami yang luluh, tapi tak jarang pula Farid yang luluh. Ya apapun itu, kami berusaha mengajarkan bahwa apapun yang dia minta, tak harus dituruti. Ada orang lain yang perlu dibagi.

#Day7
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Meletakkan Mainan pada Tempatnya

Tiada hari tanpa bermain. Itulah anak-anak, karena memang itulah dunianya. Tak terkecuali Farid. Tak jarang dia menuang semua mainannya ke lantai, alhasil tak jarang pula dia secara tak sengaja menginjak mainannya dan menangis karena kesakitan.

Seperti kemarin, tiba-tiba Farid menghampiri saya dengan menangis.

F : “huhuhuhuhu..” (nangis)

B : “Farid kenapa?”

F : “Kaki Farid sakit, abis nginjek mainan”

B : “Ooh.. Mana yang sakit? Sini Bunda doain”

Faridpun ngasih tau dan Bunda doain. Tangisnya pun reda setelah Bunda selesai doain.

B : “Dah, insyaAllah nanti disembuhin Allah”

F : (mengangguk)

B : “Farid, tadi sakit ya kakinya? Nah biar Farid ga nginjek mainan lagi, mainannya diberesin ya. Kan sakit kalo keinjek, Bunda jadi sedih”

F : bergegas ke ruang tengah dan membereskan mainan.

Tak berapa lama, saya ngecek kerjaan dia, alhamdulillah memang diberesin walaupun belum tuntas (versi dewasa/saya), tapi dari peristiwa itu dia belajar tanggung jawab dan lebih hati-hati, meskipun masih sering berulang, yah namanya juga anak kecil, hehe.. Ohya, FYI Farid ini usianya 3,5tahun.

Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tathimushshaalihaat.

#Day6
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Suplemen untuk Keluarga

Pagi hari setelah sholat shubuh, adalah waktu yang paling sering kami gunakan untuk melakukan quality time, terutama obrolan ringan antara saya dan suami (kalau anak-anak belum bangun atau lagi ‘malas’ bangunin).

Seperti pagi tadi, selepas sholat shubuh suami membuka obrolan, tentang perlunya menghidupkan taklim keluarga yang sempet ‘mati suri’. Ini penting, salah satunya agar cahaya Islam memancar di rumah kita.

“Tidak berkumpul dalam satu rumah dari rumah-rumsh Allah, mereka membaca kitab Allah, saling mengajarkanya sesama mereka, kecuali diturunkan kepada mereka sakinah, rahmat menyirami mereka, para malaikat mengerumini mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di kalangan malaikat yang ada di sisi-Nya”(Hr.Muslim,Abu Daud)

Selain itu, taklim keluarga ini juga menghidupkan sunnah Rasulullah. Sebagaimana kita tahu bahwa pada jaman Rasulullah belum ada yang namanya pesantren, sekolah, perguruan tinggi dan tempat –tempat pendidikan yang lain, tetapi kenapa bisa bermunculan hafidz Qur’an, ulama, ahli hadist baik anak-anak atau wanita, padahal yang selalu menghadiri majelis Rasulullah saw adalah kaum lelaki. Ternyata, salah satu alasannya adalah mereka menghidupkan taklim di rumah-rumah mereka. Setiap mendapatkan satu ilmu dari Rasullah saw mereka menceritakan apa yang di dapat dari Rasulullah kepada para istri dan anaknya, sehingga istri dan anak-anak bisa menjadi alim dan alimah.

Kemudian obrolan berlanjut tentang kondisi saya saat ini yang mengharuskan untuk banyak istirahat di rumah, otomatis aktivitas outing untuk Farid harus dihandle oleh suami sendiri. Kami bersepakat, untuk aktivitas ini tidak harus jauh, yang penting anak ada aktivitas di luar. Akhirnya kami menyusun list aktivitas yang bisa dilakukan.

Pada akhirnya, kami harus menentukan kehidupan kami sendiri karena kerja di rumah itu bisa melalaikan kalau tidak ada perencanaan yang tertata rapi.

#Day5
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

(Tidak Boleh) Ikut ke Mesjid

Mengenalkan anak laki-laki bahwa sholat berjamaah di masjid adalah sebuah keharusan. Saya kira tidak ada yang tidak setuju dengan hal ini. Kami sendiri (saya dan suami) juga insyaAllah sudah mengenalkan ke anak kami sejak dini. Pengenalan yang paling mudah adalah, suami berpamitan ke anak ketika hendak ke mesjid, dan itu dilakukan sejak Farid masih bayi, bahkan masih dalam perut saya.

Ketika sudah beranjak besar, tentunya sang anak punya keinginan untuk ikut juga ke mesjid. Alhamdulillah, sebuah anugerah luar biasa dari Allah.

Tak jarang saat hendak ke mesjid, terjadi negosiasi antara kami dengan Farid.

* * *

F : “Ayah, Farid mau ikut ke mesjid”

A : “Ga boleh sayang, kan maghrib”

F : “Bunda, Farid mau ikut Ayah ke mesjid” (sambil merajuk)

B : “Maaf ya nak, Farid belum boleh ikut Ayah ke mesjid kalo maghrib, soalnya Farid masih kecil”

F : “Emang kenapa?”

B : “Waktu maghrib itu, banyak setan berkeliaran. Kata Rasulullah juga ga boleh. Nanti kalo diganggu setan gimana? Kan Ayah Bunda jadi sedih”

A : “Iya Farid, Farid boleh ikut ke mesjid selain sholat  maghrib”

F : “Berarti kalo sholat dzuhur sama sholat asar, Farid boleh ikut ke mesjid?”

A-B : “InsyaAllah”

B : “Tapi di mesjid ga boleh rame ya, ga boleh berisik, ga boleh teriak-teriak. Masjid buat apa?”

F : “Masjid buat sholat sama ngaji”

B : “Alhamdulillah, sini Bunda peluk”

* * *

Dari sini paling tidak kami menanamkan 2 hal kepada anak, yang pertama bahwa saat maghrib anak kecil itu tidak boleh berada di luar, ini sesuai juga dengan hadits Nabi (bisa disearch sendiri). Yang ke dua, bahwa masjid itu tempat sholat dan ngaji, jadi kalau di masjid tidak boleh rame sehingga mengganggu kekhusyukan yang sedang beribadah. Pun saat Farid melakukan ‘kesalahan’ tersebut, biasanya kami akan ‘menghukumnya’.

* * *

A : “Bunda, tadi Farid ikut sholat lho di mesjid, anteng, sampe selesai sholatnya”

B : “MasyaAllah, shalihnya anak Bunda. Sini Bunda peluk”

F : (Terlihat bahagia)

Di lain waktu,

A : “Bunda, tadi Farid di mesjid rame.”

B : “Laah, kenapa rame? Farid tau kan mesjid buat apa?”

F : “Masjid buat sholat sama ngaji”

B : “Jadi kalo Farid rame?”

F : “Mmmm..”

B : “Kalo gitu, besok Farid ga boleh ikut ke mesjid dulu ya, Farid dihukum, soalnya tadi rame”

A : “Maaf ya Farid, besok-besok kalo Farid ga rame, insyaAllah boleh ke mesjid lagi kok”

#Day4
#GameLevel1
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP