Tag Archives: MatrikulasiIIP

aliran-rasa

Mengalirkan Rasa, Membangun Peradaban

Keluarga seperti apakah yang kita inginkan? Keluarga yang biasa-biasa saja? Ataukah keluarga luar biasa yang penuh inspirasi? Kemudian, bagaimana kondisi rumah kita. Apakah menjadi rumahku surgaku? Ataukah rumahku hambar, tidak ada rasa bahwa kita punya keluarga? Atau bahkan rumahku nerakaku? Na’udzubillahi mindzalik.

Apa pun bentuk keluarga kita, tentunya tak akan lepas dari paradigma yang kita miliki tentang keluarga, kompetensi (bakat) masing-masing anggota keluarga, serta berbagai aktivitas yang ada di dalamnya.

Ketika paradigma dalam membangun keluarga bahagia adalah yang bergelimang harta, maka motivasi dan pusat perhatian kita dalam berkeluarga adalah mengumpulkan dan menambah terus harta kekayaan. Ketika paradigma dalam membangun keluarga hanyalah mengikuti apa yang sudah ada, maka motivasi dan pusat perhatian kita dalam berkeluarga juga (biasanya) mengikuti apa yang sudah ada. Tidak ada target, tidak ada visi misi, yang penting jalan.

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Sebagai seorang muslim, tentunya harus berbeda. Paradigma berkeluarga bagi seorang muslim berasal dari motivasi bahwa berkeluarga adalah untuk beribadah kepada Allah, menjaga kesucian diri, dan merealisasikan amal bahwa berkeluarga adalah bagian dari sebuah gerakan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi, membangun peradaban. Sehingga, pusat perhatiannya dalam berkeluarga adalah meningkatkan kualitas ruhiyah, fikriyah, nafsiyah (emosi kejiwaan), jasadiyah, serta ijtima’iyah (sosial).

Secara ‘gampangnya’, keluarga yang muslim yang hendaknya dibangun adalah keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah (samara). Karena dalam keluarga yang samara itulah insyaAllah kita akan melahirkan pribadi islami untuk saat ini dan masa depan.

Betapa tidak simpelnya membangun keluarga bagi seorang muslim. Tidak simpel bukan berarti tidak bisa, karena Allah sudah memberikan banyak tools untuk mewujudkannya. Jadi, sangat penting bagi seorang muslim membangun kompetensi untuk membangun keluarga. Kompetensi berumah tangga adalah segala pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar yang harus dimiliki agar seseorang dapat berhasil membangun rumah tangga yang kokoh yang menjadi basis penegakkan nilai-nilai Islam di masyarakat.

Keshalihan diri kita dan pasangan hidup kita adalah modal dasar membentuk keluarga samara. Suami-istri itu akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam mengelola keluarga mereka.

Terkait fungsi-fungsi tersebut, saya sebagai wanita, dalam hal ini sebagai seorang istri dan ibu, dengan berbagai tanggung jawab yang tidak ringan, tentu juga tidak ingin melakukan ikhtiar yang maksimal. Salah satunya, saya ‘nekat’ mengikuti kuliah di IIP.

Alhamdulillah, lewat IIP yang baru saya pelajari seujung kuku, Allah membuka mata dan hati saya. Kembali menyelami makna hidup. Ngapain sih saya hidup? Untuk apa sih Allah menciptakan saya seperti ini? Kenapa Allah mempertemukan saya dengan suami saya dengan segala kelebihan dan kekurangan, serta kenapa Allah menitipkan anak-anak yang unik-unik seperti itu. Pasti ada maksudnya. Bukan hanya sekedar cocok, tapi bagaimana semua potensi itu bisa kami gunakan untuk menebar manfaat untuk umat, sebagaimana (semacam) jargon hidup saya dan suami. Khairunnaas… Anfa’uhum Linnaas – Sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang paling banyak memberi manfaat untuk sesama.

Menjadi istri itu, sangat bahagia
Sangat mulia
Sangat besar amanahnya
Sangat berliku tantangannya.

Menjadi ibu itu, sangat mulia
Sangat bahagia
Sangat terhormat
Sangat besar amanahnya
Sangat besar cintanya
Sangat berliku tantangannya.

Alhamdulilah, kita terpilih
Kita dipercaya dan kita (dianggap) mampu mendampingi disetiap detik perkembangan anak- anak yang bukan pekerjaan sampingan dan sekedarnya.

Bersiap dengan tangis, tawa, sedih, senang, kecewa, bangga, tegas, lembut, menasehati, dinasehati, didukung, dibiarkan, optimis, pesimis dan segudang rasa-rasa lainnya. Semua campur aduk. Bersama hati yang dipenuhi cinta.

Itulah kita, ibu yang mendampingi. Bukan boss yang penuh tuntutan, bukan ajudan yang disuruh-suruh, bukan teman yang setara, bukan musuh yang dilawan.

Kita, ‘hanya’ ibu yang harus terus belajar. Karena semua butuh ilmu.

Karena seorang ibu yang berilmu, seorang istri yang berilmu dan mau mengamalkannya, akan sangat menentukan bagaimana keluarga ke depannya. Karena peradaban itu bermula dari rumah.