Tag Archives: syukur

Cerita Tentang Sugus (Lanjutan)

Rada bingung mau mulai dari mana. Sebenernya, awalnya saya hanya iseng posting tentang tulisan pengalaman ‘mistis’, di luar dugaan ternyata banyak yang respon. Baiklah, saya akan berusaha penuhi janji saya.

Pasca kejadian sugus itu, setelah kami ruqyah dan kami kembalikan ke pengirim, alhamdulillah, hidup kami kembali aman, damai, dan tenang. Ibadah pelan-pelan mulai pulih. Tapi satu hal yang masih nempel, kami sekeluarga masih bergantian sakitnya. Sakit terparah dialami oleh saya sendiri, rekor hampir 3 bulan. Saya sembuh, suami nyusul sakit, kemudian Farid. Terakhir Elina, yang ini juga lumayan, tapi masih lebih parah saya. Tapi gimana sih rasanya, bayi sakit ga kunjung sembuh. Pijat refleksi, ruqyah (sebisanya saya dan suami), sampe terakhir ikhtiar ke nakes tapi belum menampakkan hasil yang menggembirakan. Capek, hampir putus asa. Jelas banget. Sebagai perempuan, yang baper, tak jarang saya nangis liat kondisi seperti ini.

Pada akhirnya, saya ceritakan semua yang saya alami ke mertua. Termasuk gangguan yang saya lihat dalam ‘tidur’.

Beberapa hari terakhir, gangguan muncul kembali. Dimulai dari pagi hari pas nyapu rumah, tetiba muncul klabang. Lalu malam harinya, tindihan, melihat ada yang ngintip dari jendela kamar, anak kecil sama hewan, ntah apa saya ngga merhatiin. Kaget banget, kok malem-malem ada anak kecil ngintip. Spontan saya bacain syahadat, berkali-kali ga pergi-pergi itu yang ngintip. Ternyata, di luar (dalam mimpi), anak kecil itu ga sendirian. Rasanya rame, lebih dari 3 sugus sepertinya. Dalam mimpi (tindihan itu), saya kejar terus pake telunjuk syahadat, mereka lari, tapi ketengkep satu, langsung saya habisi. Alhamdulillah, dengan kekuatan dari Allah, tidak ada rasa takut sedikitpun saat itu. Tapi anak kecil yang ngintip itu juga ga bergeming. Sampe akhirnya saya kebangun, ngos ngosan. Langsung baca ayat-ayat ruqyah, dan saya usap ke tubuh seluruh anggota keluarga.

Pagi hari cerita ke suami, bahwa saya capek hidup penuh gangguan.

Gangguan belum selesai kawan. Malam harinya, sambil mijitin Farid, saya ketiduran, tindihan lagi. Saya lihat ada keranda di kamar dan pocong tidur di samping, kaget, belum sempet baca apa-apa alhamdulillah udah kebangun.

Tapi di antara semua itu, paling sedih kalo liat Elina tiap pagi nafasnya ngos ngosan, bunyi, berat banget. Ga jarang saya nangis sendiri liat kondisi begini terus. Saya tau banget gimana rasanya. Saking capeknya, kita sempet terpikir pergi dari sini, ga tinggal disini lagi, tapi masih mikir tanggung jawab yang sudah ‘terlanjur’ kita ambil.

And then, alhamdulillah, akhirnya Abah turun tangan langsung. Meruqyah. Ruqyah berlangsung selama lebih dari 3 jam, itupun diakhiri karena baby Elina sudah butuh ASI dan saya sudah lemas hampir pingsan. Alhamdulillah, setelah ruqyah, rumah saya terasa lebih ‘terang’, badan saya enteng banget, hati lebih tenang. Pun suami juga demikian. Alhamdulillah.

Tapi kami sadar, bahwa ini bukan akhir. Bisa jadi masih akan ada serangan-serangan lagi, wallahu a’lam. Dalam keadaan seperti ini, sangat terasa betapa kita tidak bisa apa-apa tanpa Allah.

FYI : ini hanya sebagian kecil cerita kami. Alhamdulillah, Allah Maha Baik, yang tidak pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan, dan semua yang sudah terjadi ini insyaAllah adalah yang terbaik dari-Nya. Semua kejadian ini membuat kami semakin sabar, dan syukur, alhamdulillah. Kita bukan apa-apa tanpa Allah.

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS An Naml : 19)

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS AL Ahqaf : 15)